Kamis, 29 Februari 2024

28 Februari 2024

Hari ini 15 tahun yang lalu, pukul 09.00

Aku terbaring lemah di tempat tidur rumah sakit dengan perasaan membuncah bahagia.. Seorang anak laki-laki yang sehat berhasil dilahirkan dengan normal setelah berusaha beberapa jam...

Proses kelahiran yang sebenarnya biasa saja, tapi karena pertama, tentu saja jadi luar biasa. 

Malam itu, 27 Februari sekitar jam 23, televisi memutarkan film Nothing Hill yang dibintangi Julia Roberts. Tetiba aku terbangun karena merasakan sakit yang luar biasa. Aku menengok ke sofabed di sisi seberang, Franky sedang tertidur pulas. Kupanggil dia jutaan kali tanpa mendapatkan hasil yang memuaskan. Tengok meja samping ranjang dan mengambil benda kecil apapun untuk dilempar... tentu saja dia langsung terbangun.. Hahahaaa...

Dengan ditemani suami, yang tentu saja dia tidak tahu mesti berbuat apa, aku mulai merasakan kontraksi-kontraksi yang semakin menyiksa. Kirim pesan ke dokter, minta obat penghilang rasa sakit 😂 Minta ke perawat / bidan untuk mendapatkan penjelasan dan cara-cara mengurangi rasa sakit yang menyiksa. Jawabannya tidak ada yang memuaskan (tentu saja).

Setelah sekian jam menderita dengan durasi siksaan yang semakin rapat, bidan memeriksa dan mulai membawaku ke ruang bersalin. 'Membawa' yang dimaksud adalah memapahku berjalan ke seberang kamar. Aku ditidurkan di tempat tidur bersalin, diminta untuk menghadap ke kiri (atau ke kanan ya, lupa). Perawat / bidan berpesan untuk menahan rasa ingin 'buang air'. "Matamuuu.." sahutku dalam hati.

Tak berapa lama ibu dokter Susi datang dan membantuku bersalin. Selama menolong persalinan, beliau sempat menertawakan keinginanku untuk meminta obat penghilang rasa sakit... Pliiisss dookk... konseeennn...

Nggak perlu diceritain detilnya lah, intinya setelah suara adzan subuh selesai, suara tangisan bayi pun pecah. Seolah meneruskan suara adzan yang sebelumnya berkumandang memasuki ruang bersalin. Kami beri nama dia Adli Balian Haritz.

Setelah ditaruh didadaku sebentar, dibersihkan dan aku diberikan kesempatan untuk menggendongnya sebentar, bayi mungilku dibawa keluar. Saat itu keluargaku menyeruak masuk ke ruang bersalin. Selama proses persalinan, rupanya mereka sudah ada di depan ruang bersalin, dan ikut mendengarkan suara tangis pertamanya. 

Saat itu perasaan yang timbul benar-benar tidak dapat diceritakan dengan kata-kata. Bahagia, pasti. Ada perasaan kuatir, lelah, cemas, senang tak terkira, bangga.. entahlah apa lagi..

Setelah 2-3 jam di ruang bersalin hanya ditemani suamiku, aku memintanya untuk membantuku pindah ke ruang rawat. Dengan dipapah, tentu saja. Rasanya? kemeng... wkwkwk.... kaku banget apalagi di bagian bawah.. haha... mungkin efek obat bius yang belum hilang. 


Hari ini pukul 09.00

Aku duduk di depan laptopku menghadapi beberapa tugas yang perlu diselesaikan. Chat dengan rekan kerja untuk kordinasi. Dan bayangannya menyeruak memenuhi pikiranku. 

Kalau kamu masih diberi kesempatan bersama kami, hari ini kamu sudah jadi remaja, ko.. Usia 15 tahun, kira2 kelas 2 SMP atau kelas 8. Mungkin postur tubuh kamu tinggi langsing, kulit putih, mata agak sipit dan senyum malu-malu. Tipe yang tidak suka menarik perhatian.. Mungkin...

Mungkin juga kamu menjadi anak yang aktif, karena dulu waktu kecil kamu nggak bisa diem, lari sana lari sini, sentuh sana sentuh sini.. Mungkin kulitmu kecoklatan terbakar matahari, postur atletis dan menyenangkan.. Mungkin..

Atau mungkin juga kamu seperti adikmu, Yan, sekarang, hobinya coding, ngutak ngatik depan laptop seharian.. Entah main game, roblox atau memang menyusun coding. Duduk di depan laptop seharian, konsentrasi penuh dengan dahi berkerut dan jemari menari di atas tuts laptop. 

Rasa penyesalan itu pernah ada. Tapi rasanya juga tidak ada pilihan. 

Padahal hidup adalah pilihan, dan aku memilih yang menurutku terbaik bagi kami. Iya, terbaik bagi kami. Bagi keluarga kecil kami, terutama. Pengorbanan itu terasa berat dan menyesakkan, tapi aku nggak boleh egois kan..

Saat ini aku hanya bisa bersyukur. Aku menyadari bahwa Allah akan kasih yang terbaik untuk hambaNya. Allah tahu aku tidak bisa merawatmu dengan benar, ko, makanya Allah panggil kamu untuk dirawat lebih baik. Aku masih suka cerita tentang kamu ke adikmu, Yan, agar dia tetap mengingatmu. 


1 November 2014 malam

Aku ingat waktu kamu dibawa pulang untuk disemayamkan di rumah. Yan mencium keningmu, karena disangkanya kamu sedang tidur. Begitu merasakan kaku dan dinginnya tubuhmu, Yan tidak mau menciummu untuk kedua kalinya. Sedangkan aku sendiri seperti tidak tahu harus berbuat apa dengan adanya tubuh dinginmu di rumah. Saat kamu dimakamkan pun aku tidak menangis dan masih bisa menerima tamu dengan ceria. Tapi sebenarnya itu adalah kepribadian keduaku. Saat itu, jujur, aku tidak bisa mengingat pembicaraan, siapa yang aku salami, siapa yang ajak ngobrol, siapa yang menemani. Seperti ada penghalang antara aku dengan dunia luar. 

Dua hari setelah kamu dimakamkan, baru air mataku bisa pecah saat sendiri. Suara tangisku mungkin terdengar sampai keluar kamar, entahlah. Tapi tidak ada yang menggangguku. Mungkin keluargaku ingin membiarkan emosiku keluar tanpa gangguan. Satu penghiburanku hanyalan Yan. Kami berdua saja saat itu. 


Hari ini pukul 21.00

Aku sempatkan menuangkan perasaanku disini sebelum masuk kamar beristirahat. Saat ini aku sedang jauh. Tapi aku tahu keluargaku menjagaku dengan doa-doanya. Aku juga tahu Allah akan terus memberikan yang terbaik dengan rencana-rencanaNya. 

Semoga kamu tenang disana, ko... Titip Mbah Ti dan Mbak Sri... 

Mampir di mimpi mak, ya, ko... Terakhir mak lihat kamu sedang pakai baju gamis putih peci putih dan gigimu utuh sempurna. Dan itu mimpi beberapa tahun yang lalu..

Sesukamu ya ko, mak tahu kalau kamu mendapatkan yang terbaik di sisiNya. 

Mak juga tahu kalo Allah berikan yang terbaik untuk kamu, mbah Ti dan mbak Sri...

Alfatihah untuk semua..


Dalam rangka kangen

Koko Lie, Adli Balian Haritz

Mbah Ti, Sumartini Astirah

Mbak Sri, Sriyati







Minggu, 15 Mei 2022

Fitoplankton penghasil oksigen

 Pernah denger fitoplankton? Sejenis plankton yg hidupnya di permukaan air krn membutuhkan sinar matahari utk kelangsungan hidupnya..

Nah, makhluk imut2 amit2 yg 1 ini penyumbang terbesar oksigen di bumi.. yes, kata Chris Bowler dr Tara Ocean Foundation, 80% oksigen kita diproduksi oleh si plankton ini..

Kalo pohon??
Yaa pohon juga produksi oksigen, tp hanya 20% aja, itupun kalo gak banyak dikurang2in..
Meskipun pohon gak produksi kebutuhan oksigen spt yg kita selama ini pikirkan, pohon itu punya peranan PENTING utk kita. Yaitu menyaring polusi, membuat udara sejuk, mengikat tanah, menciptakan ekosistem yg saling menguntungkan disekitarnya..
kecuali utk manusia ya...
Soalnya kayaknya semakin banyak dr kita, manusia, yg mikir pohon itu ngalangin pandangan lah, ngerusak pondasi lah, ngabisin tempat lah, jadi deh diilangin.. ditebang, dipotong2 cabangnya, DISINGKIRKAN..

Balik lagi ke fitoplankton. Jadi kalian bisa paham kan perasaannya si fitoplankton ini yg gak pernah dihargai sebagai salah satu elemen penting penghasil kehidupan di bumi?? Bete, pastinya...
Kita baek2in orang 1 biji dan dia gak ngerasa aja bete banget.. apalagi ini, baek2in makhluk hidup seplanet, tp gak pernah dianggep... Malah elemen lain (pohon) yg dianggep berjasa...
No wonder ya, Sheldon Plankton yg diajadikan karakter antagonis di Spongebob. Makasih pakde Stephen Hillenburg alm yg kasi pemahaman soal kehidupan laut via kartun nya..

Meskipun sebagai penerima pujian, para pohon juga gak kalah menderita hidup berdampingan langsung dgn manusia ya... Jadi kira2 makhluk hidup apa ya yang berhubungan simbiosis mutualisme sepanjang waktunya dengan manusia... hmmm


_nils






Selasa, 09 Februari 2021

Merlion di Madiun

 Seorang teman mengirimkan pesan ke saya, menanyakan pendapat saya soal kebijakan teranyar Walikota Madiun yang membangun Merlion diikuti dengan bangunan khas negara2 lain di Madiun. 

Kebetulan Madiun adalah kampung halaman keluarga kami. Kakek dan nenek saya dari pihak ibu memiliki rumah disana, yang saat ini menjadi tempat berkumpul keluarga besar kami. Namun saya sebenarnya kurang familiar dengan tempat wisata yang ada disana. Sebagian besar waktu yang kami habiskan saat berada di Madiun adalah bercengkerama dengan keluarga, sowan ke keluarga di kota sekitar, nyekar dan tentu saja makan pecel. 

Mendengar adanya tempat wisata baru disana tentu saja saya sedikit bahagia. Terakhir jalan2 disana, beberapa tahun yg lalu, kami ke tempat wisata di pinggir kota Madiun bernama Grape (baca gra-pe, bukan grep ya...). Sejenis wisata alam begitulah.. Jadi mendengar adanya tempat wisata baru, apalagi terletak di tengah kota, tentu saja saya cukup antusias. Siapa tau perjalanan berikutnya ke Madiun, kami bisa mengunjunginya.  

Namun, tempat wisata bernuansa 'mancanegara' ini banyak menimbulkan kontra. Beberapa pihak menilai kurang cocok ditempatkan di tengah kota Madiun, seolah-olah merupakan maskot atau ciri khas kota ini. Kebetulan bangunan utama pertama adalah sejenis Merlion yang merupakan ciri khas Kota (negara) Singapura. 

Untuk pengembangan tahapan berikutnya, informasi yang saya baca, tempat ini akan ditambahkan beberapa bangunan seperti menara Eiffel, Kabah, Kincir Angin dan beberapa bangunan khas mancanegara lainnya. 

Polemik serupa juga sempat timbul di Sumatera Barat sewaktu pemerintah daerah membangun tempat wisata dengan 'nuansa' kebarat-baratan yang seolah menenggelamkan ciri khas daerahnya. 

Pendapat bodoh saya, ya.. saya cukup mengapresiasi pembangunan ini. Yes, mengapresiasi, meskipun saya tidak setuju 100%. Menurut saya, kita kudu melihat demografi masyarakat di kota itu juga. Apakah masyarakat di kota itu adalah tipe masyarakat yang sering bepergian keluar kota? Atau tipe masyarakat desa yang mayoritas kegiatannya berada di tempat yang itu2 saja. 

Sepenglihatan mata saya yang minusnya hampir mendekati 5 ini, masyarakat di kota Madiun adalah tipe masyarakat menetap. Sebagian besar mata pencaharian masyarakat didapat dari sektor perdagangan dan industri pengolahan. Beberapa industri perdagangan memang mengharuskan kita mobile. Untuk industri pengolahan, mayoritas dilakukan di tempat yang itu2 saja. Jika kita mau melihat tipikal masyarakatnya, mungkin kita akan memaklumi mengapa walikota Madiun mengambil bentukan bangunan khas mancanegara sebagai pelengkap area wisatanya. Agar masyarakat dapat mengunjungi dan melihat langsung (meskipun dalam bentuk miniatur) bangunan tersebut di halaman mereka sendiri. 

Secara desain ruang luar, saya pikir mengakomodasi keinginan masyarakat bukan hal yang salah. Apalagi ini dilakukan di tengah pandemi, dimana masyarakat tidak bisa dengan bebas pergi keluar kota selama beberapa waktu. Namun menurut saya, kegiatan ini akan lebih baik lagi jika tidak lupa menekankan unsur tradisional yang khas dari area ini. Atau memberikan ilustrasi (berupa patung / diorama / sejenisnya) tentang asal muasal kota Madiun yang pasti akan menarik untuk dikunjungi. Ilustrasi ini bisa menambahkan unsur rekreasi pendidikan untuk masyarakat kota atau pengunjung. Memiliki bangunan mancanegara tanpa lupa akar riwayat kotanya sendiri.  

Saya mencoba selalu berpikir dari sudut pandang yang berbeda. Bertahun2 lamanya saya tinggal di Jakarta. Kunjungan saya ke Monumen Nasional (Monas) sebenarnya bisa dihitung dengan jari. Tapi begitu ada tempat wisata baru di sekitaran  Jakarta... langsung deh capcuss....

Saya pikir hal ini jugalah yang diharapkan oleh Pak Walikota Madiun. Saya hanya berharap, tim konsultan pengembangan wilayah kota Madiun memberikan input yang sebaik2nya untuk pengembangan kota Madiun dalam jangka panjang. 


_nils


Senin, 19 Januari 2015

Lansekap Bandara Soekarno-Hatta (Beauty Contest)



Beauty Contest
Landscape Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Propinsi Banten

KSO Yodya Karya dan PP
Kami selaku tim perencana di bawah arahan Yodya Karya


































Minggu, 01 Juni 2014

Ibu yang baik

Siapa bilang gw ibu yang baik...
Secara sekilas mungkin beberapa orang akan berpendapat seperti itu...

Hal ini timbul karena putra pertama gw yg sakit... Dia mengidap craniopharyngioma.. Itu adalah sejenis tumor yang ada di batang otak. Jenis tumor ini jinak, namun beberapa progresif. Yaitu mengeluarkan cairan sehingga menekan bagian otak yang lain.
Resikonya, si anak menjadi lebih lemah dari yang lain. Organ fisiknya bisa terganggu (untuk kasus Lie, tangan kirinya terkadang lebih lemah jika cairan tumor di otaknya sudah banyak). Ada beberapa pengidap yang penglihatannya juga terganggu.

Gw memang mencurahkan hampir seluruh perhatian gw pada Lie. Mencatat perkembangannya. Memperhatikan kelebihan dan kekurangannya. Tapi ada yang lain yang terlewatkan.
Putra kedua gw, Yan, yang lahir sekitar 4 bulan sebelum Lie divonis mengidap tumor agak terabaikan.
Terabaikan pertama adalah gw hanya menyusui dia selama 3,5 bulan. Menyusui hampir ekslusif. Artinya masih dicampur susu sapi, meskipun cuma sedikit. Karena di usia 3,5 bulan, Lie diharuskan operasi di RS yang cukup jauh dari rumah. Hal ini mengakibatkan gw nggak bisa ketemu dia sesering yang dibutuhkan.
Kita tau bahwa balita tidak boleh berkunjung di RS kan... Apalagi ini bayi 3 bln... *mengusap air mata

Yang lainnya lagi, terkadang gw tidak bisa menerima kenyataan bahwa putra gw mengidap tumor itu. Jadi beberapa info dari internet yg sebaiknya dilakukan terhadap pengidap tumor itu tidak gw lakukan. Misalnya pantangan makan. Gw memang mengurangi Lie spy tidak memakan jenis itu. Tapi tidak menyetopnya sama sekali. Its good to see him happy, you know.. Saat dia menikmati apa yg dia makan, saat dia menikmati sesuatu... Mungkin juga karena dia tidak bisa menikmati semuanya secara sempurna seperti anak2 lain. Misalnya saja dia tidak bisa melakukan permainan2 yang disukai anak2 seusianya. Seperti ayunan, luncuran, berenang, lari2an. Karena fisiknya kurang baik, dia lebih suka berjoget sendiri (spy tidak kawatir didorong temannya) atau menonton tv.

Apalagi ya... Banyak lah kekurangan gw sebagai ibu. Terkadang gw juga menomorduakan putra2 gw demi sebuah deadline. Apalagi jika ada suami gw yg bisa menjaga mereka. Atau menomorduakan putra bungsu gw...

Kami memiliki kelebihan dan kekurangan masing2. Semua ada penyebabnya. Semua ada pertimbangannya. Terkadang pertimbangan itu salah. Tapi kadang kita juga terjebak dengan pola pikir kita sendiri.

Jadi... masih berpikir gw ibu yang baik??


Senin, 17 Februari 2014

Roof Garden di KLH

Agak sedikit pengen narsis...
Sebenernya kurang maksimal sih, tp untuk ukuran waktu yg sempit, kayaknya lumayan juga ya...


posisinya di atas drop off... nggak ada akses untuk ke area ini, tp mudah2 ada spot yg bisa dibuka dari ruang rapat menteri, minimal untuk maintenance....

Minggu, 28 April 2013

Lie vs Tumor Otak - Craniopharyngioma

Saat itu pertengahan Februari. Kami merasa hidup kami tidak bisa lebih baik lagi. Kami baru saja dikaruniai putra kedua yang lahir 10 Januari 2013, Yan Haritz, dan kami sedang mempersiapkan aqiqah untuknya yang diadakan Sabtu, 16 Februari 2013. Namun Tuhan punya rencana lain untuk kami... 

Beberapa hari sebelum hari aqiqah, tangan kiri putra pertama dan ksatria kecil kami tiba2 lumpuh. Hal ini cukup mencolok karena Lie biasanya sangat pecicilan dan gratilan, sehingga kelihatan sekali saat dia tidak menggunakan tangan kirinya. 

Akhirnya kami ke dokter anak senior di Sukma Sakti untuk memeriksakan kondisi Lie. Sang dokter hanya menyarankan untuk segera ke dokter syaraf anak di Klinik Anakku, Kelapa Gading. Karena antrian yang panjang dari pasien dr. Hardiono di Klinik Anakku, Lie baru mendapat jadwal 4 hari setelah disarankan oleh dokter anak. Dr. Hardiono hanya memeriksa Lie sekilas dan menyarankan segera MRI. Karena memerlukan anestesi, maka kegiatan MRI baru bisa dilakukan hari Senin, 25 Februari 2013. Setelah selesai MRI aku langsung menghadap dr. Hardiono untuk minta saran selanjutnya. 

Diagnosis dr. Hardiono adalah ada gumpalan di otak Lie. Bentuknya semi padat dan padat. Gumpalan tersebut yang menekan otak kanannya, sehingga menyebabkan tangan kirinya lumpuh. Dr. Hardiono merujuk untuk segera ke RS. Mitra Keluarga Kelapa Gading untuk segera tindakan. Kondisi Lie saat itu sudah 'serius', menurut dokter. Tindakan yang dilakukan terhadap Lie, sebagai gambaran dari dr. Hardiono, kemungkinan ada tindakan biopsi utk meneliti apa materi dari gumpalan tersebut. Apabila bisa diobati dari luar, maka tidak perlu dibedah. Namun jika tidak bisa diobati dari luar, maka otak Lie perlu dibedah dan diambil gumpalan tersebut. Bahkan dr. Hardiono menyarankan langsung ke RS Mitra Keluarga, tanpa perlu pulang dulu. 

Dunia rasanya runtuh saat mendengar itu. Bedah otak... Nggak kebayang kayaknya mendengar istilah itu. Jika ada yang mengucapkan kata itu, mungkin aku hanya mengucap: Naudzubillah... 

Singkat cerita, kami memutuskan untuk tidak langsung tindakan, tapi ingin mencari referensi dulu untuk perlakuan medis mengenai otak yang sekiranya terbaik untuk anak2. Dan kami menemukan referensi terbaik adalah Prof. Eka di RS. Siloam Karawaci. Kamipun membuat janji temu yang mendapat jadwal 26 April 2013. 

Namun lagi2 rencana Tuhan berkata lain. 
Akhir Maret, setelah Lie menginap di RS Rawamangun selama 1 minggu akibat dehidrasi sedang-berat (dia nggak mau makan dan minum selama 2 hari penuh sebelum di rawat, namun kondisinya sangat membaik selama dirawat) kondisi Lie drop setelah BAB sebanyak 3x di hari Minggu dan Senin. Puncaknya di hari Senin, 1 April 2013, kondisi Lie bener2 drop. Dia mulai setengah sadar, tangannya gemetar dan kakinya kaku. Kakakku yang pernah mengirimkan email ke gammaknife.com mengenai kondisi Lie disarankan untuk menemui dr. Lutfi. Gammaknife adalah teknologi Prof. Eka yang dikembangkan di RS. Siloam Karawaci. Dr. Lutfi adalah salah satu tim bedah syaraf yang diketuai oleh Prof. Eka. 

Rabu, 3 April 2013 sore, kami menemui dr. Lutfi. Franky, suamiku, sudah memutuskan untuk mengikuti jalan apapun yang disarankan oleh dokter untuk kebaikan Lie. Penjelasan dr. Lutfi yang simpatik membuat kami yakin untuk menyerahkan kegiatan bedah otak Lie di tangan sang dokter dan tim nya. 

Jumat, 5 April 2013 kegiatan bedah dilakukan. Dr. Lutfi sudah menginformasikan hal2 terkait kegiatan bedah termasuk lamanya kegiatan bedah tersebut yg secepat2nya 6 jam dan selama2nya bisa sampai 10 jam. Ooohhh.... 10 jam melakukan operasi.... Nggak kebayang deh, capeknya, tapi kami pasrah saja menerima semua informasi tersebut. 

Setelah 6 jam proses operasi, Lie dipindahkan ke ruang ICU dan sudah sadar 3,5 jam berikutnya. Dan dia juga tidak rewel bahkan relatif lebih banyak tertawa disana meskipun tubuh mungilnya dipenuhi selang sana sini dan dikelilingi alat2 yang notabene lebih besar dari tubuhnya. 

Senin, 8 April 2013 lie dipindahkan ke ruang rawat. Meskipun kondisinya masih kelihatan memprihatinkan, namun rupanya kondisi vital nya sudah stabil. Alhamdulillah. Di ruang rawat kami menghabiskan waktu lebih dari 2 minggu karena kondisi kekakuan Lie yang belum normal. Rahang kiri, tangan kiri dan kaki kirinya masih belum bisa berfungsi sempurna. Meskipun di minggu pertama tim dokter bedah syaraf sudah memperbolehkan Lie pulang, namun dokter anak, dokter gizi dan dokter fisioterapi masih belum menyarankan untuk pulang. 

Kami baru pulang hari Selasa, 23 April 2013 setelah Lie dapat memasukkan makanan setengah padat dan menerima alat fisioterapi untuk membuat tangan kirinya berada pada posisi sempurna. 

Jalan menuju kesembuhan total Lie masih panjang. Jenis tumor yang diderita Lie, craniopharyngioma, adalah jenis yang lengket di thalamus, sehingga dokter tidak bisa mengangkat seluruh tumor tersebut tanpa mengganggu sistem hormonnya. Adapun gumpalan yang menekan otak kanan Lie merupakan cairan yang dihasilkan oleh tumor tersebut. Sebagai antisipasi, tim dokter sudah menyiapkan selang di kepala Lie yang memungkinkan untuk disedot keluar apabila tumor sudah menghasilkan cairan terlalu banyak. Treatment selanjutnya adalah radiasi (sinar) untuk menghambat atau bahkan menghentikan pertumbuhan tumor tersebut. 

Jenis tumor ini rupanya menyerang anak2 usia 2-11 tahun dan kebanyakan berjenis kelamin laki2. Tumor ini biasanya menyerang mata sehingga tidak sedikit yang gejalanya adalah rabun atau buta yang dilanjutkan dengan lumpuh, koma lalu.. ya, meninggal apabila tidak segera mendapat pertolongan. Untuk beberapa kasus bahkan ada gejala yang menyebabkan perubahan sikap pada anak yang mengidapnya, misalnya menjadi lebih sopan dan lembut. Yang pasti ini jenis tumor yang tidak bisa dihilangkan begitu saja karena sifatnya yang lengket. 

Saat tulisan ini dibuat, kondisi Lie sudah mulai membaik. Dia sudah mulai cerewet, fungsi motorik tangan dan kakinya masih perlu dilatih sehingga Lie melanjutkan fisioterapi di RS. OMC (Ongkomulyo) setiap seminggu 2-3x. Kepala bagian kanan dimana tertanam selang agak sedikit benjol berisi cairan. Menurut dokter, hal ini tidak membahayakan, namun kami sangat menantikan waktu kontrol Senin, 29 April 2013 besok untuk menanyakan hal ini. Kami terus berharap yang terbaik, semoga kondisi Lie dipulihkan seperti semula. Baik kondisi tubuhnya maupun penglihatannya. 

Kami masih percaya bahwa Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik bagi kami, seperti yang sudah kami rasakan selama ini.. 

Banyak sekali dukungan dari teman2 dan saudara2 baik dukungan moril maupun materil bagi kami di saat2 tergelap kami. Dukungan yang timbul dari rekan yang sungguh tidak kami duga. Bahkan beberapa dukungan datang dari rekan yang tidak begitu dekat. Untuk itu semua, kami mengucapkan terima kasih untuk teman2 kami. Mohon doa restu untuk treatmen Lie selanjutnya semoga dilancarkan dan dimudahkan. Amin. 


Terimakasih sebesar2nya untuk Bapak Hadi Nursanto dan Ibu Sumartini Astirah yang bersedia dengan senang hati merawat putra kedua kami yang sedikit terlantar sejak Lie dirawat; mbak Denok dan mas Puji dan Rindra yang memberikan dukungan moril, materil dan membantu merawat Yan; keluarga suamiku, Franky Haritz, mama atas dukungan dan perhatiannya, Lina, Edu, Linda atas semua dukungan moril dan materil dan info2 yang berguna bagi kesembuhan Lie; 
Terimakasih untuk keluarga besar dari pihak orang tua kami; mbak Wuri dan keluarga, mbak Ike dan keluarga, Om Didi dan keluarga, Ik Lin dan keluarga, Ku Yong yang telah memberikan semua dukungan yang kami butuhkan. 
Terimakasih juga untuk teman2 sekolah dan profesi kami yang tidak bisa disebutkan satu persatu dan teman2 kerja suamiku, di AMS. 
Semua doa dan dukungan kalian Insya Allah akan dibalas Allah berlipat ganda. 
Amin.

Senin, 05 Maret 2012

Waktu

Beberapa hari yang lalu, ksatria kecil kami memasuki usia ke 3. Telah 3 tahun lamanya dia menikmati waktunya di dunia di hadapannya. Apakah dia menikmatinya... I do really hope he does.. Meskipun terkadang orang dewasa kelihatan lebih punya banyak waktu (dengan segala akitivas mereka) dibandingkan seorang anak kecil yang mempunyai seluruh kehidupan di hadapannya.. Terkadang mereka merasa hal ini tidak perlu dikerjakan sekarang dan hal itu harus dilakukan sekarang juga...

Waktu.. Apakah waktu itu... Itu adalah salah satu pertanyaan yang sering muncul di novel2 pengarang favoritku, Jostein Gaarder.. Waktu itu tergantung bagaimana kita melihatnya..

Semalam baru saja saya membaca mengenai kehidupan seorang pegawai di Swedia. Di kolom Ultimate U hari itu, waktu bukanlah uang.. Time is not money.. Waktu adalah saat yang harus dinikmati, dengan keluarga maupun melakukan apapun yang disukai. Memang terdengar egois, tapi saya menyetujui pemikiran tersebut. DI kolom tersebut, penulis bercerita tentang rekan penanya yang berasal dari Swedia dan berprofesi sebagai karyawan, mendapatkan libur panjang selama 3 (tiga) bulan setahun dengan gaji penuh. Dan para pegawai itu dipersilahkan jalan2 keluar negeri untuk 'merecharge' sekaligus berlibur bersama keluarga atau orang tercinta. Wow, 3 bulan setahun... Di Indonesia mungkin hanya para pengusaha sukses yang bisa melakukan hal itu.. Di samping itu, yang lebih mencengangkan lagi, di Swedia sana, beberapa perusahaan akan meng'off'kan kantor apabila cuaca cerah dan mempersilahkan para karyawannya menghabiskan waktu bersama keluarga mereka. Kalau di Indonesia mungkin pas cuaca buruk, baru deh perusahaan 'maklum' apabila karyawan nggak masuk kerja.. Apalagi kalau rumah karyawan tersebut langganan banjir... Miris..

Kembali kepada ksatria kecilku, di 3 tahun pengalaman hidupnya, dia memasuki tahap yang biasa disebut pengembangan otaknya. Dia mulai mengenal huruf, warna dan bentuk. Bisa dibilang kemajuannya cukup pesat juga karena dia sudah bisa mengeja meskipun belum bisa membaca. Rasa bersalah terkadang merasukiku, apakah aku mendorongnya terlalu keras? Aku benar2 menginginkan sang ksatria menikmati waktu hidupnya.. Tidak dikejar oleh apa yang dunia sodorkan padanya. Aku menginginkan dia memilih apa yang bisa dia ambil dari dunia..

Aku sering sekali membisikkan 'The Knight's Old Code' dengan harapan dia bisa membedakan mana yang benar dan salah. Mana yang baik untuk dirinya dan mana yang tidak. Terkadang aku juga membacakannya 'The Manual of The Warrior of the Light' karena aku menginginkan dia memiliki pertimbangan yang lebih obyektif dan sederhana dalam segala hal. 

Waktu untuknya mungkin hanya sekelebatan diantara segala keasyikan yang dia lakukan. Saat aku harus meninggalkannya pergi beberapa hari, sang ksatria dengan gayanya yang khas melonjak2 sambil melambaikan tangan dan melepaskan kecupan di udara. Seolah dia bahagia melepaskan kepergianku beberapa hari lamanya. Sementara aku merasa berat sekali melihat tampangnya yang bahagia dan mulai merindukannya. 

Suatu hari nanti mungkin dia akan membaca catatan2ku dan memahami betapa berat aku meninggalkannya di usia keemasannya. Melapaskan dia dari arahanku untuk perkembangannya di kemudian hari. Tapi untuk diketahui all I do is for him. I love him so much.. He is my life and he always will..

Jumat, 25 November 2011

Isi pidato anak 12 th di Konferensi Lingkungan Hidup PBB 1992

 Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O - Enviromental Children Organization. Kami adalah kelompok dari Kanada yang terdiri dari anak-anak berusia 12 dan 13 tahun, yang mencoba membuat perbedaan: Vanessa Suttie, Morga, Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk bisa datang ke sini sejauh 6000 mil untuk memberitahukan pada anda sekalian orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, hari ini di sini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja.

Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada di sini untuk berbicara bagi semua generasi yang akan datang.


Saya berada di sini mewakili anak-anak yang kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya tidak lagi terdengar.


Saya berada di sini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya di seluruh planet ini karena kehilangan habitatnya. Kami tidak boleh tidak didengar.


Saya merasa takut untuk berada di bawah sinar matahari karena berlubangnya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada bahan kimia apa yang dibawa oleh udara.


Saya sering memancing di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya penuh dengan kanker. Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu persatu mengalami kepunahan tiap harinya - hilang selamanya.


Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang-binatang liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu-kupu. Tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal-hal tersebut bahkan masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya.


Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah-masalah kecil ini ketika anda sekalian masih berusia sama serperti saya sekarang?


Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahannya. Tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa anda sekalian juga sama seperti saya!


Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita. Anda tidak tahu bagaimana cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai asalnya. Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang telah punah.


Dan anda tidak dapat mengembalikan hutan-hutan seperti sediakala di tempatnya, yang sekarang hanya berupa padang pasir. Jika anda tidak tahu bagaima cara memperbaikinya.
TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!

Di sini anda adalah delegasi negara-negara anda. Pengusaha, anggota perhimpunan, wartawan atau politisi - tetapi sebenarnya anda adalah ayah dan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan, paman dan bibi dan anda semua adalah anak dari seseorang.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari 5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di planet yang sama - perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal tersebut.

Saya hanyalah seorang anak kecil namun begitu saya tahu bahwa kita semua menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan yang sama.

Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.

Di negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan. Kami membeli sesuatu dan kemudian membuangnya, beli dan kemudian buang.
Walaupun begitu tetap saja negara-negara di Utara tidak akan berbagi dengan mereka yang memerlukan. Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi.

Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan papan yang berkecukupan - kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan perlengkapan televisi.

Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami menghabiskan waktu dengan anak-anak yang hidup di jalanan. Dan salah satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: ” Aku berharap aku kaya, dan jika aku kaya, aku akan memberikan anak-anak jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal, cinta dan kasih sayang ” .

Jika seorang anak yang berada di jalanan dan tidak memiliki apapun, bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih begitu serakah?

Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak-anak tersebut berusia sama dengan saya, bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan yang begitu besar, bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak-anak yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia ; seorang korban perang timur tengah atau pengemis di India .

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa jika semua uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia ini.

Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak, anda mengajarkan kami untuk berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain, untuk mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan; untuk tidak menyakiti makhluk hidup lain, untuk berbagi dan tidak tamak. Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarkan pada kami supaya tidak boleh dilakukan tersebut?

Jangan lupakan mengapa anda menghadiri konferensi ini, mengapa anda melakukan hal ini - kami adalah anak-anak anda semua. Anda sekalianlah yang memutuskan, dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua seharusnya dapat memberikan kenyamanan pada anak-anak mereka dengan mengatakan, ” Semuanya akan baik-baik saja”, kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan dan ini bukanlah akhir dari segalanya.”

Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua? Ayah saya selalu berkata, “Kamu akan selalu dikenang karena perbuatanmu, bukan oleh kata-katamu”.

Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari. Kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami. Saya MENANTANG ANDA, cobalah untuk mewujudkan kata-kata tersebut.

Sekian dan terima kasih atas perhatiannya.

Kamis, 13 Oktober 2011

Nama untuk Sang Buah Hati

Nama seorang anak terhadap keluarganya kadang mirip seperti plang nama pada sebuah toko. Di situlah citra bisa ternilai. Mulai dari pemilihan nama, gaya tulisan, warna dan jenis plang, serta penempatannya. Jangan berharap konsumen akan tertarik masuk ke toko jika tulisan plangnya asal-asalan.
Jangan anggap remeh arti sebuah nama. Terlebih jika nama itu diperuntukkan buat sang buah hati. Karena dari nama anaklah, citra sebuah keluarga bisa ternilai.

Sayangnya, tidak semua orang tua paham itu. Jadilah bayi-bayi yang punya asal nama. Tanpa arti, tanpa hikmah. Hal itulah yang kini kerap dipikirkan Pak Yogi.
Bapak yang baru saja dapat anugerah kelahiran bayi laki-laki ini masih dibingungkan dengan pilihan nama. Ia sedang berpikir keras untuk menentukan nama bayinya. "Nama anak harus punya nilai," tekad Pak Yogi begitu kuat. Sekuat kritik buat ayahnya yang telah memberinya nama 'Yogi'.
Ketika Pak Yogi paham bagaimana Islam mengajarkan soal nama, ia sempat kecewa. Masalahnya, nama 'Yogi' sulit dicarikan arti. Apalagi, nilai yang bisa diambil pelajaran. Dan lebih kecewa lagi ketika Pak Yogi bertanya ke ayahnya soal pemilihan nama itu. "Ayah juga nggak tahu artinya!" ucap ayah Pak Yogi suatu kali. Ketika didesak kenapa ayahnya memilih nama itu, jawaban sang ayah sederhana saja. "Soalnya, waktu itu ayah suka sama film kartun. Judulnya Yogi and Bubu!"

Astaghfirullah! Pak Yogi sangat sangat kecewa. Kadang ia malu sama teman pengajiannya. Tapi, apa mau dibilang. Nama sudah terlanjur melekat. Repot kalau diubah. Karena mesti mengubah akte kelahiran, ijazah SD, SMP, SMU, dan S satu.
Cara mudah mengubah nama tanpa mesti mengubah dokumen keluarga, ya dengan mengubah nama panggilan. Pak Yogi berharap, dengan nama anaknya kelak, ia bisa mendompleng. Ia bisa menyebut dirinya dengan Abu titik-titik. Artinya, bapak dari nama bayi laki-lakinya itu. Kalau nama sang bayi Ahmad. Maka, nama panggilan Pak Yogi menjadi Abu Ahmad. Wow, keren!

Tapi, ia masih belum sreg dengan pilihan nama buat anaknya. Yang jelas, tidak mungkin Pak Yogi menamai anaknya dengan Abu Bakar. Karena nama panggilan buat dirinya akan dobel di Abu: Abu Abu Bakar. Wah, jadi nggak pas. Pak Yogi terus berpikir. Tapi, belum juga ketemu.
Pak Yogi pernah bertanya ke isterinya. Tapi, isterinya tidak memberi satu nama pun. Cuma ngasih saran, agar nama bayinya tidak kepanjangan. Repot mesti dipanggil apa. Kalau disebut semua, sulit dihafal. Kalau disingkat, nanti malah kurang bagus.
Saran isterinya itu, menjadi pertimbangan baru buat Pak Yogi. "Betul juga, ya!" ucapnya dalam hati. Ia pernah dengar pengalaman teman pengajiannya. Sang teman pernah dikasih saran oleh seseorang untuk menamai anaknya dengan nama yang begitu bagus: shibghotullah! Artinya, celupan atau bentukan dari Allah. Tapi, teman Pak Yogi bingung sendiri. Ia kerepotan memanggil sang anak. Kalau dipanggil secara utuh, selain susah juga kepanjangan. Kalau mau disingkat, motongnya di mana.
Kadang, ketika anak mulai belajar bicara, kerap menyebut namanya dengan caranya sendiri. Nah, kalau namanya kepanjangan dan sulit disingkat, anak juga ikut kerepotan. Hal itu pernah dialami tetangganya. Nama sang anak sebenarnya bagus: Khairuddin. Artinya, kebaikan dari agama. Tapi, sang anak sendiri yang akhirnya menyingkat menjadi Udin. Hingga dewasa, anak itu tetap dipanggil Udin.
Dari sekian pengalaman itu, Pak Yogi akhirnya menemukan satu nama. Panggilannya tidak sulit. Tidak juga terlalu panjang. Bahkan, sangat singkat. Namanya, Sa'id. Artinya yang berbahagia. Dari segi sejarah, nama Said mengingatkan Pak Yogi dengan seorang pahlawan Islam: Said bin Zubair.
Selain itu, ada satu hal yang membuat hati Pak Yogi berbunga-bunga. Tak lama lagi, teman-teman Pak Yogi akan memanggil dirinya dengan panggilan baru: Abu Said. "Wow, nama yang keren!" ucap Pak Yogi ke isterinya. Dan, isteri Pak Yogi pun setuju.

Ketika berkunjung ke orang tuanya, Pak Yogi menyertakan isteri dan sang bayi. Selain minta doa, sebenarnya Pak Yogi juga punya maksud lain. Ia ingin ngasih pelajaran buat ayahnya yang asal ngasih nama. Agar, ayahnya sadar bahwa nama anak itu harus punya arti dan pelajaran.
"Siapa namanya, Yog?" tanya ayah Pak Yogi sambil menoleh ke sang bayi. Dengan bangga Pak Yogi mengatakan, "Sa'id, Yah! Artinya yang berbahagia. Bagus kan, Yah!"
Ayah Pak Yogi mengangguk-angguk pelan. "Luar biasa, Yog! Kamu memang hebat pilih nama. Hebat!" ucap ayah Pak Yogi.
Mendapati reaksi itu, Pak Yogi jadi bingung sendiri. Apakah secepat itu ayahnya langsung tersadar soal nilai sebuah nama. Atau, apa nama Said punya arti tersendiri buat ayahnya yang ia yakin tidak paham dengan bahasa Arab dan nama-nama tokoh Islam.
”Maksud, ayah?” tanya Pak Yogi menghilangkan rasa penasarannya.
"Begini, Yog. Dengan nama itu, aku bisa memanggil cucuku dengan inisial bagus: SBY! Wow, SBY! Artinya, Said bin Yogi!" lanjut ayah Pak Yogi bangga. 

(muhammadnuh@eramuslim.com)
-numpang copas dari blog tetangga... :)-