Minggu, 04 September 2011

Miss Him So....

Libur lebaran sudah hampir berakhir. Besok gw udh kembali ke aktivitas rutin yg sudah gw jalani beberapa bulan terakhir ini. Aktivitas rutin itu adalah 'kerja'.. Hahahaa... Selamat ya, nil, akhirnya lo bisa kerja juga... (pasti ada beberapa org yg mengucapkan kalimat ini).. Ya, beberapa bulan terakhir ini gw kerja di salah satu perusahaan konsultan (eh, ada kontraktor nya juga ding) yang cukup terkenal di Jakarta.

Nah, rencananya di liburan lebaran kali ini, gw pingin banget menghabiskan waktu bersama si ksatria kecil, Lie.. Tapi sayangnya, karena ada pekerjaan mendadak yang cukup menjanjikan dan deadline nya cepet, jadi lah gw lebih banyak menghabiskan waktu gw di kantor temen gw untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Alhasil, hampir dari setengah waktu libur gw, gw habiskan di situ. Mengejar pekerjaan yang tidak mampu aku kerjakan di rumah. Dan dengan terpaksa meninggalkan si ksatria kecil di rumah. Setiap kali gw mau berangkat meninggalkannya, terasa ada beban berat melihat wajah innocent nya yang merengek mau ikut. Lebih mudah meninggalkannya saat dia sedang memejamkan mata dan terlena dalam mimpinya. Tapi itulah. Demi mewujudkan mimpi2 kami kepada sang ksatra, aku relakan sebagian waktuku untuk mewujudkannya... :) *alasan cliche


Merindukan saat2 bersamanya
Merindukan tawa segarnya
Merindukan mendengar ucapan2nya
Merindukan kata 'wah' nya
Merindukan kegembiraannya
Merindukannya..

Sampai nanti sore sayangku, i love u so much

For my little knight, Lie

Sabtu, 03 September 2011

Bulan Penuh Berkah

Bulan Ramadhan sudah hampir berakhir. Banyak orang yang bilang bulan Ramadhan itu adalah bulan penuh berkah. Kalau didengarkan sekilas kalimat tersebut sangat biasa. Bahkan tidak terasa 'menohok' seperti saat aku mendengar pepatah2 lama atau kata2 mutiara. Beberapa stasiun TV juga menayangkan kalimat tersebut dikelilingi dengan hiasan bernuansa Islami di sela2 pergantian acara atau iklan.

Sampai suatu hari aku mendapatkan kesempatan untuk merenungi kata2 tersebut. Di titik itu aku merasakah suatu keharuan yang luar biasa. Sambil memperhatikan ksatria kecilku berlarian sambil memegang mobil2annya dan mengoceh nggak karuan, makna mendalam dari kalimat tersebut menerpaku.

Betapa cintaNya kepadaku... kepada kami, ciptaanNya.. seperti saat aku melihat ksatria ku yang berlari kesana kemari sambil sesekali terjatuh sebelum bangkit dan mulai berlari lagi.. Aku membiarkannya berlari, terjatuh, bangkit dan hanya menagawasinya dari jauh, namun siap untuk menolongnya jika dia memanggilku. Seperti itu kah cinta Sang Pencipta kepada ciptaanNya? Aku yakin jauh lebih besar dari itu. Buktinya, Sang Pencipta menyediakan satu bulan penuh selama 30 hari untuk kita mengejar berkah Nya yang berkelimpahan. Tidak hanya itu, di bulan itu juga Sang Pencipta mengurung semua iblis nya untuk memudahkan ciptaanNya mengejar berkahNya. Hampir sama seperti kita memberikan iming2 kepada putra atau seseorang yang kita cintai atau bahkan diri kita sendiri untuk prestasi yang kita harapkan kan... Lalu setelah prestasi tersebut tercapai, apa lagi yang kita harapkan sebagai pemberi hadiah? Melanjutkan prestasi tersebut tentu saja...

Seperti juga saat aku mengawasi ksatria kecilku. Aku membiarkannya berlari, terjatuh, tersenggol, tersakiti dll. Namun aku siap berada di dekatnya jika dia membutuhkanku. Tapi aku ingin dia mengalami segala pangalaman baik dan buruk. Kesenangan berlari dan sakitnya jatuh. Hal ini akan membuat sang ksatria lebih berhati2 dalam melangkah. Kesenangan untuk memanjat dan menyebalkannya jika kaki tersangkut sampai tidak bisa turun. Membuat sang ksatria berpikir sebelum bertindak.

Misalnya saja, sebagai hadiah naik kelas keponakanku sempat dijanjikan sebuah barang jika nilainya baik oleh orang tuanya. Setelah nilai nya yang baik itu tercapai dan barang tersebut dihadiahkan, apa lagi yang diharapkan oleh kakakku selaku orangtuanya? Tentu saja dia dan suaminya mengharapkan sang putra dapat meneruskan prestasinya tersebut di masa2 berikutnya. Sehingga nilainya bagus terus dan bisa menjadi bintang kelas. Pasti itu juga yang kurang lebih diharapkan oleh Sang Pencipta terhadap kita, ciptaanNya. Nah, apakah kita sudah memenuhi harapan tersebut?? Duh, kayaknya jauh deh.. Tapi Sang Pencipta tetap melimpahkan rahmat dan berkahNya seperti tidak terjadi apa2.

Menjelang habisnya bulan penuh berkah ini, aku berharap sepenuh hati supaya aku bisa merasakan bulan penuh berkah berikutnya. Aku merasa bulan ini aku tidak sepenuhnya mengejar semua rahmat dan berkah yang dilimpahkanNya. Aku lebih banyak sibuk dengan kegiatan keduniawian. Semoga di tahun berikutnya aku bisa lebih khusyu dalam menjalankan ibadah ya... Amin...

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Apabila aku melakukan kesalahan, mohon dimaafkan ya.. karena sesungguhnya aku tidak pernah punya keinginan untuk menyakiti... always try to do the best.. masalahnya tidak semua yang terbaik itu bisa diterima juga dengan baik...
Semoga kita bisa bertemu lagi dengan bulan Ramadhan berikutnya dan menjalankannya dengan lebih tulus dan ikhlas...

Ninil, Franky, Lie

Minggu, 15 Agustus 2010

Namanya....

Lelaki itu bernama Adli Balian Haritz.. Kedua orang tuanya memiliki latar belakang yang cukup berbeda.. Mereka berbeda ras dan awalnya berbeda agama. Mereka dibesarkan dengan pola pikir yang cukup berbeda. Mereka punya kesukaan dan hobi yang bener2 beda. 

Sang ayah yang berbeda sekitar 3th dengan sang ibu berasal dari suku Cina Jawa beragama Katholik. Sementara sang ibu berasal dari suku Jawa Pribumi beragama Islam. Dengan kesepakatan2 selama masa pendekatan, mereka berdua berhasil mendamaikan perbedaan2 tersebut dan melebur menjadi sebuah keluarga kecil. 

Arti kata yang melatarbelakangi nama lelaki itu cukup sederhana tapi mendalam. Adli berarti Adil dalam bahasa Arab. Nama ini persembahan sang nenek (dari pihak ibu) yang menginginkan agar lelaki ini dapat bersikap adil di tengah2 perbedaan yang melatarbelakangi kehidupannya di masa mendatang. 

Balian diambil dari nama seorang ksatria perang salib beragama Katholik yang begitu mencintai istrinya sehingga dia rela meninggalkan segalanya untuk menebus dosa sang istri yang mati bunuh diri. Dia mencari jawaban namun malah mendapatkan posisi penting di Jerusalem yang nantinya dia serahkan ke pihak Islam yang dipimpin Salahuddin karena merasa bahwa tentara Islam bersikap lebih baik kepada penduduk Jerusalem dibandingkan tentara Jerusalem itu sendiri. 
Diharapkan sifat ini dapat mencerminkan sifat Balian baru yang dapat mengambil sisi positif dan obyektif dari segala perbedaan yang ada.
Kata2 yang Balian (ksatria perang salib) ucapkan di bukit Golgota sambil memandang salib penghukum Kristus: "Sayangku, bagaimana kau bisa berada di neraka padahal kau tidak pernah pergi meninggalkan hatiku." menggambarkan betapa Balian sangat mencintai istrinya dan bersedia melakukan apa saja agar istrinya bebas dari neraka (menurut kepercayaan saat itu, setiap orang yg mati bunuh diri akan langsung masuk neraka).
(Film Kingdom of Heaven)

Haritz diambil dari nama sang ayah. Sewaktu memutuskan untuk memeluk agama Islam, sang ayah mencari nama tambahan sebagai penanda agamanya. Didapatlah nama 'harrits' yang kalau tidak salah berarti singa atau orang yang dinomorsatukan. Jadilah sang ayah memilih nama tersebut sebagai nama belakangnya dengan sedikit penyesuaian unik -> Haritz

Lelaki itu juga mempunyai panggilan unik, Lie. Panggilan ini diharapkan dapat mencitrakan ras Cina dari ayahnya sekaligus mengakrabkan dan memudahkan. 

Jadilah nama lengkap lelaki itu Adli Balian Haritz atau pendeknya Lie Haritz.
Lahir sebagai anak pertama di Jakarta, 28 Januari 2009 secara normal dan tidak menyusahkan.
Lelaki tersebut merupakan inspirasi dan kebanggaan bagi kedua orangtuanya. Sepertinya tidak cukup kata untuk melukiskan dan menggambarkan keberadaannya. 
Ke 26 huruf yang telah diciptakan bangsa Romawi tidak cukup banyak untuk menggambarkannya. Menggambarkan betapa berartinya dia. Menggambarkan keberadaannya. 

I love so much, son...
Yanuar Prihana Nurantini

Rabu, 03 Juni 2009

KETERKAITAN....

Udah pernah nonton Babel, film ini dibintangi oleh Brad Pitt, Cate Blanchett dan beberapa aktor lain. Sebagian besar kurang begitu terkenal (di mata gw), karena tidak berasal dari industri film Hollywood.
Ceritanya mengenai 4 kehidupan keluarga yang berbeda. Latar belakang, pendidikan, pola pikir, ras, kebudayaan, pokoknya hampir semuanya beda deh.. Yang sama kayanya cuma mereka sama2 manusia aja..
Keluarga pertama; sepasang suami istri warga negara Amerika sedang berlibur ke daerah Arab atau Timur Tengah. Dalam perjalanan dengan bis mereka, sang istri tertembak. Kalo di Amerika, mereka tinggal pencet 911, nah kalo di tengah padang pasir kaya gitu susah kan..
Keluara kedua; seorang warga negara Mexico yang tinggal di Amerika secara ilegal dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga sekaligus pengasuh di sebuah keluarga yang kedua anaknya masih kecil. Kebetulan pemilik rumah tidak di tempat, padahal putra tertua pembantu tadi hendak menikah di Mexico. Karena nggak ada yang bisa dtitipin, dibawalah dua bocah pirang itu ke Mexico... Dalam perjalanan kembali ke Amerika, dia dituduh menculik kedua anak itu di perbatasan. Karena panik, akhirnya dia melarikan diri ke gurun di perbatasan tersebut dengan membawa kedua anak kecil itu bersamanya...
Keluarga ketiga; sepasang kakak beradik warga Arab yang baru saja dibelikan senjata ayahnya untuk mengusir serigala yang kerap mengganggu kambing yang mereka gembalakan. Sebagai remaja dengan ‘mainan’ barunya, mereka pun mencoba ketepatan bidikan sekaligus mengetahui jarak tembakan terjauh. Dan hal itu dilakukan tanpa banyak pertimbangan...
Keluarga keempat; seorang remaja putri warga negara Jepang yang tuli sangat merindukan perhatian terutama dari lawan jenisnya. Ibunya yang baru saja meninggal karena bunuh diri meninggalkan bekas mendalam padanya dan ayahnya. Seakan lari dari kenyataan, remaja ini seperti tidak sabar untuk memberikan tubuhnya pada lelaki2 yang ditemuinya...
Ternyata keempat keluarga ini memiliki keterkaitan satu sama lain. Satu tindakan yang dilakukan oleh keluarga yang satu, rupanya berpengaruh kepada keluarga yang lain. Tindakan yang tadinya diharapkan merupakan output terbaik, ternyata malah menjadi musibah bagi keluarga yang lain.
Gw yakin di kehidupan sebenarnya pun kita tidak luput dari keterkaitan dengan orang lain. Dengan orang yg kita kenal maupun tidak. 
Minggu lalu episode serial LIFE mengingatkan gw banget dengan film BABEL. Epilog yang disampaikan di akhir film berkata :
Pada saat kita menghembuskan nafas terakhir, nafas tersebut akan dihirup oleh yang lain. Karena cahaya matahari yang menerangiku juga menerangimu.Dengan demikian kita terhubung dengan orang lain baik itu teman maupun lawan. Dengan demikian kita tidak memiliki perbedaan dengan teman kita. Dan kita tidak memiliki perbedaan dengan lawan kita.
Karena kita semua berhubungan.. (kurang lebih begitu deh..)

Di buku Celestine Prophecy nya James Redfield, disampaikan bahwa tiap orang memiliki misi yang harus disampaikan kepada yang lain. Bahwa tidak ada yang namanya kebetulan, semua telah diatur. Dan masing2 memiliki sesuatu untuk disampaikan. Bagi yang kurang dapat merasakan energi ini, maka mereka akan kehilangan kesempatan untuk menjadi bagian dari kehidupan yang sedang berlangsung dan sekaligus kehilangan kesempatan untuk mendapatkan makna dari kehidupan ini..
Idih.. kayanya berat banget tulisan gw.. kaya ngerti aje....
Sebenernya sih cuma curahan hati saja, karena mungkin saja tidak semua orang merasa bahwa mereka berkaitan dengan orang lain. Mau dibilang egosentris, enggak juga, karena mereka tetap punya empati terhadap yang lain. Yang jadi perhatian disini kan cuma keterkaitan. Bahwa sekecil apapun tindakah yang kita lakukan (baik untuk diri sendiri maupun terhadap orang lain) ternyata bisa menimbulkan dampak (bisa baik atau buruk) kepada yang lain.
Seperti menumbuhkan budaya buang sampah pada tempatnya, yang diperlukan hanya kesadaran. Kesadaran bahwa kita bergantung pada orang lain, bahwa kita digantungi oleh orang lain. Bahwa kita punya hubungan bahkan dengan tukang parkir di ruko yang baru dibangun di daerah Blok M (meskipun gw belum pernah kesana..)
Nah, jadi dampak apa nih yang mau kita kasih buat semesta pribadi kita masing2?

Jumat, 08 Mei 2009

Akhirnya...

Waktu itu Jumat pagi tgl 27 Februari sekitar jam 3.45. Perut gw terasa mules yg datang dan pergi. Pas pipis di kamar mandi, ternyata ada bercak merah. Nggak jadi subuh an deh, gw malah sms dokter kandungan gw n menginform kondisi gw. Soalnya jadwal gw kontrol besoknya tgl 28. Dokter memberi jawaban sekitar jam 6an. Ke RS aja deh, biar di cek bidan jaga.

Yasud, jam 7an lewat gw langsung ke RS. Laki gw juga terpaksa berangkat telat demi gw. Hehehe.. Stl diperiksa bidan, rupanya gw udh bukaan 2. Menurut dokter melalui bidan, gw sebaiknya nginep di RS aja, spy kalo ada apa2 cepet penanganannya. Ya.. nginep deh jadinya. Bidannya pesen spy banyak2 jalan. Tapi pas gw ngajak nyokap (yg lagi nemenin gw) jalan ke Tiptop kira2 200 m dari RS malah dimarahin.. Gimana sih... ^_^

Sore dokternya dateng n gw diperiksa. Katanya gw masih bukaan 2. Seandainya sampai besok pagi bukaan gw dibawah 5, maka gw dipersilahkan pulang. Prediksi dokter kalau seandainya melahirkan, Insya Allah bisa normal, karena dr data usg berat bayi 2,8 kg. Kembalilah gw ke kamar menginformasikan situasi tersebut ke keluarga gw yg ada di kamar.

Malemnya gw ditinggal berdua sama Franky. Ya iyalah. Ngapain juga rame2 nginep di RS. Mama Franky juga sempet nengok jam 10an malem bareng ipar gw, Edu. Saat itu Edu (yg udh punya anak 2) sempet bilang, kalo gw masih bisa senyum berarti masih bukaan kecil. Kalo udh bukaan 6 ke atas, bisanya cuma nangis n nangis darah. Gw ketawa aja. Karena emang waktu itu gw masih bisa ketawa. Mulesnya cukup sering, tp tdk menyiksa. Sepulang mereka, gw mencoba tidur yg kebangun terus gara2 perut yg ngejang. Sementara laki gw tidur dgn lelapnya di sofa sebelah tempat tidur gw. Sirik deh...

Lewat jam 12 malem. Gw udh nggak bisa tidur sama sekali. Nonton Nothing Hill tp nggak konsen. Lama kelamaan kejang (apa mules ya..) di perut gw makin menggila. Akhirnya gw bangunin laki gw, n gw suruh dia duduk deket gw supaya saat kejang itu datang, gw bisa peluk dia. Awalnya cuma meluk Franky pas kejangnya datang. Lama2 nungging di tempat tidur, gigitin sofa, jungkir balik, pokoke banyak tingkah deh. Pas baru bangunin Franky gw juga sempet minta panggilin bidan jaga (namanya bidan Ratna) utk cek kondisi gw. Ternyata masih bukaan 3. Lama jg prosesnya. Dari pagi sampe malem cuma beda 1 bukaan. Selama proses kejang yg menyakitkan itu gw juga minta Franky bolak balik panggil bidan utk cek kondisi gw. Yang dijawab dgn sabar oleh bidan Ratna bahwa memang begitulah kondisinya kalau mau melahirkan. Sementara utk pengecekan, bisa dilakukan lagi jam 4.

Gw udh nyerah banget ngerasain kejang perut tsb. Bahkan sekitar jam 3 pagi gw sempet sms dokter utk minta obat penghilang sakit kontraksi. Yang tentu saja tidak dibalas oleh dokternya. Gw juga sempet bilang ke bidan kalau gw mau cesar aja. Tapi jawabannya bikin sakit hati. Katanya, kalau mau cesar bisanya jam 6 pagi, karena sekarang tdk ada dokter anestesi nya. Halah.. Gw sempet shock denger jawaban tsb yg kelak akan gw syukuri.

Jam 4, gw langsung minta Franky panggilin bidan Ratna utk ngecek lagi. Dengan tertatih2 gw pindah kamar ke ruang bersalin utk dilihat bukaannya. Kali ini udh bukaan 8. Bidan Ratna langsung menghubungi dokter spy segera datang dan menghubungi suster di bagian lain utk membantu proses persalinan. Saat itu Franky disuruh nemenin gw yg udh nggak bisa mikir. Bismillah.

Rasa yg timbul adalah keinginan buang air besar yg luar biasa. Dan pas kontraksi datang (berarti berasa pingin bab), gw bilang ke bidan yang dijawab nyebelin, tahan sebentar ya bu... Nah lo.. pengen boker udh diujung tanduk disuruh nahan?? Matamu. Tapi tentu aja, gw nggak ngomong apa2, gw ngikutin aja apa yg disuruh meskipun dalam hati mengumpat2. Hehehe..

Alhamdulillah dokter segera datang dan proses persalinan berjalan lancar sekali. Gw mengejan kira2 3-5 kali lalu keluar deh ‘isi perut’ gw sekitar jam 4.45 tgl 28 Februari 2009, pas setelah adzan subuh selesai, dengan diiringi lautan darah yang rupanya hampir bikin laki gw pingsan. ‘Isi perut’ tersebut adalah bayi laki2 dgn tinggi 48cm dan berat 3,2kg yang langsung gw panggil Lie (emang udh ditentuin namanya). Lahir dgn sehat dan ‘mudah’, menurut dokternya. Suara tangis Lie seolah2 nerusin panggilan adzan yg telah berakhir. Alhamdulillah. Allahu Akbar.
 
Setelah Lie lahir, gw pikir siksaan itu sudah berakhir. Ternyata dokter dengan santai nyuruh gw rileks dulu lalu meng obok2 perut gw yg kali ini udh kempes banget. Gw cuma bisa pasrah lagi tentunya. Tapi nggak terasa tau2 sdh selesai. Dan tau2 nyokap masuk ke ruang bersalin dan menyatakan rasa syukurnya. Rupanya keluarga gw datang ke RS pas gw diinformasikan udh bukaan 8. Laki gw yg menelpon mereka. Gw bersyukur banget ada mereka di situasi seperti itu. Dan laki gw yg terus ada di samping gw. Langsung aja gw maksa jalan pindah ke kamar gw dgn dipapah Franky tentunya (kira2 setengah sp sejam stl melahirkan).

Lie bener2 bayi yg tidak menyusahkan. Sejak di dalam perut gw tdk merasakan gangguan selama kehamilan selain perut yg membesar dan nafsu makan yg bertambah. Begitu melahirkan, prosesnya jg bagus. Bukaan dulu baru ketuban pecah. Semuanya berjalan normal tanpa ditambah obat macem2. Mungkin karena menjelang hari H gw masih jalan2 nggak keruan, termasuk ngecek proyek di Cikampek yg jauh bgt itu. Jadwal kelahiran Lie jg termasuk cepat, karena prediksi dokter, Lie lahir sekitar 9-10 Maret. Jadi gw gakada persiapan utk istirahat atau apa pun. Bahkan gw punya jadwal utk senam hamil hari Seninnya, tgl 2 Maret. Heheheee...

Gw pernah denger tentang ‘baby blues’. Dan gw menyatakan diri ke sobat gw bahwa gw gak mau ‘baby blues’, tp ‘baby rock’ aja. Dan bener kejadian. Gw sama sekali nggak stres ngurus Lie kecil. Dia byk tidur dan bangun cuma utk minum susu atau buang air. Bahkan gw nggak pake pampers utk mempermudah ngurus Lie. Semakin gede, tidurnya semakin berkurang. Tapi tetep nggak nyusahin. Mungkin karena ada orang2 yg membantu gw mengurus Lie kali ya. Kaya laki gw yg mengurus Lie stl dia pulang kantor, jadi gw bisa tidur (kebo tetep lanjut). Atau mbah nya yg bantuin megang Lie kalo udh waktu gw makan. Alhamdulillah.

Sekarang Lie udh 2 bln lebih. Badannya gemuk bgt. Asi gw nggak cukup (abis Lie rakus banget), jadi gw tambah pake susu formula. Sekarang dia udh bisa ngoceh nggak jelas, ngeliat lawan bicara, mendengar dan ketawa. Hihi.. lucu banget. Nggak kebayang ngurus anak waktu masih bujang. Apalagi gw termasuk orang yg cinta anak kecil tapi nggak suka bayi. Heheheee..

Alhamdulillah, gw terus bersyukur setiap ngeliat Lie. Karena dia bayi yg sehat dan tidak menyusahkan.

To my Beloved Son, Lie Haritz
My big thx especially to:
My Lovely Husband, Franky Haritz
My Family, Bpk Hadi & Ibu Sumartini, Mbak Denok & Mas Puji & Rindra
My Husband’s Family, Mama Lay Nie & Papa Soei, Lina & Edu, Linda & Fredy
Dr. Susilawati, Sp.Og
Bidan Ratna